Rabu, 12 Maret 2014

IPS

PERJANJIAN BUNGAYA

Perjanjian Bungaya (sering juga disebut Bongaya atau Bongaja) adalah perjanjian perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya antara Kesultanan Gowa yang diwakili oleh Sultan Hasanuddin dan pihak Hindia Belanda yang diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman.[1] Walaupun disebut perjanjian perdamaian, isi sebenarnya adalah deklarasi kekalahan Gowa dari VOC (Kompeni) serta pengesahan monopoli oleh VOC untuk perdagangan sejumlah barang di pelabuhan Makassar (yang dikuasai Gowan).

Isi perjanjian

  1. Perjanjian yang ditandatangani oleh Karaeng Popo, duta pemerintah di Makassar (Gowa) dan Gubernur-Jendral, serta Dewan Hindia di Batavia pada tanggal 19 Agustus 1660, dan antara pemerintahan Makassar dan Jacob Cau sebagai Komisioner Kompeni pada tanggal 2 Desember 1660 harus diberlakukan.

  2. Seluruh pejabat dan rakyat Kompeni berkebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau pada masa lalu melarikan diri dan masih tinggal di sekitar Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana (Cornelis Speelman).

  3. Seluruh alat-alat, meriam, uang, dan barang-barang yang masih tersisa, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus diserahkan kepada Kompeni.

  4. Mereka yang terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat harus diadili segera oleh Perwakilan Belanda dan mendapat hukuman setimpal.

  5. Raja dan bangsawan Makassar harus membayar ganti rugi dan seluruh utang pada Kompeni, paling lambat musim berikut.

  6. Seluruh orang Portugis dan Inggris harus diusir dari wilayah Makassar dan tidak boleh lagi diterima tinggal di sini atau melakukan perdagangan.
    Tidak ada orang Eropa yang boleh masuk atau melakukan perdagangan di Makassar.

  7. Hanya Kompeni yang boleh bebas berdagang di Makassar. Orang "India" atau "Moor" (Muslim India), Jawa, Melayu, Aceh, atau Siam tidak boleh memasarkan kain dan barang-barang dari Tiongkok karena hanya Kompeni yang boleh melakukannya. Semua yang melanggar akan dihukum dan barangnya akan disita oleh Kompeni.

  8. Kompeni harus dibebaskan dari bea dan pajak impor maupun ekspor.

  9. Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar ke mana pun kecuali Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan, dan harus meminta surat izin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat izin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timur Kalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta.

  10. Seluruh benteng di sepanjang pantai Makassar harus dihancurkan, yaitu: Barombong, Pa'nakkukang, Garassi, Mariso, Boro'boso. Hanya Sombaopu yang boleh tetap berdiri untuk ditempati raja.

  11. Benteng Ujung Pandang harus diserahkan kepada Kompeni dalam keadaan baik, bersama dengan desa dan tanah yang menjadi wilayahnya.

  12. Koin Belanda seperti yang digunakan di Batavia harus diberlakukan di Makassar.

  13. Raja dan para bangsawan harus mengirim ke Batavia uang senilai 1.000 budak pria dan wanita, dengan perhitungan 2½ tael atau 40 mas emas Makassar per orang. Setengahnya harus sudah terkirim pada bulan Juni dan sisanya paling lambat pada musim berikut.

  14. Raja dan bangsawan Makassar tidak boleh lagi mencampuri urusan Bima dan wilayahnya.

  15. Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu harus diserahkan kepada Kompeni untuk dihukum.

  16. Mereka yang diambil dari Sultan Butung pada penyerangan terakhir Makassar harus dikembalikan. Bagi mereka yang telah meninggal atau tidak dapat dikembalikan, harus dibayar dengan kompensasi.

  17. Bagi Sultan Ternate, semua orang yang telah diambil dari Kepulauan Sula harus dikembalikan bersama dengan meriam dan senapan. Gowa harus melepaskan seluruh keinginannya menguasai kepulauan Selayar dan Pansiano (Muna), seluruh pantai timur Sulawesi dari Manado ke Pansiano, Banggai, dan Kepulauan Gapi dan tempat lainnya di pantai yang sama, dan negeri-negeri Mandar dan Manado, yang dulunya adalah milik raja Ternate.

  18. Gowa harus menanggalkan seluruh kekuasaannya atas negeri-negeri Bugis dan Luwu. Raja tua Soppeng [La Ténribali] dan seluruh tanah serta rakyatnya harus dibebaskan, begitu pula penguasa Bugis lainnya yang masih ditawan di wilayah-wilayah Makassar, serta wanita dan anak-anak yang masih ditahan penguasa Gowa.

  19. Raja Layo, Bangkala dan seluruh Turatea serta Bajing dan tanah-tanah mereka harus dilepaskan.

  20. Seluruh negeri yang ditaklukkan oleh Kompeni dan sekutunya, dari Bulo-Bulo hingga Turatea, dan dari Turatea hingga Bungaya, harus tetap menjadi tanah milik Kompeni sebagai hak penaklukan.

  21. Wajo, Bulo-Bulo dan Mandar harus ditinggalkan oleh pemerintah Gowa dan tidak lagi membantu mereka dengan tenaga manusia, senjata dan lainnya.

  22. Seluruh laki-laki Bugis dan Turatea yang menikahi perempuan Makassar, dapat terus bersama isteri mereka. Untuk selanjutnya, jika ada orang Makassar yang berharap tinggal dengan orang Bugis atau Turatea, atau sebaliknya, orang Bugis atau Turatea berharap tinggal dengan orang Makassar, boleh melakukannya dengan seizin penguasa atau raja yang berwenang.

  23. Pemerintah Gowa harus menutup negerinya bagi semua bangsa (kecuali Belanda). Mereka juga harus membantu Kompeni melawan musuhnya di dalam dan sekitar Makassar.

  24. Persahabatan dan persekutuan harus terjalin antara para raja dan bangsawan Makassar dengan Ternate, Tidore, Bacan, Butung, Bugis (Bone), Soppeng, Luwu, Turatea, Layo, Bajing, Bima dan penguasa-penguasa lain yang pada masa depan ingin turut dalam persekutuan ini.

  25. Dalam setiap sengketa di antara para sekutu, Kapten Belanda (yaitu, presiden atau gubernur Fort Rotterdam) harus diminta untuk menengahi. Jika salah satu pihak tidak mengacuhkan mediasi ini, maka seluruh sekutu akan mengambil tindakan yang setimpal.

  26. Ketika perjanjian damai ini ditandatangani, disumpah dan dibubuhi cap, para raja dan bangsawan Makassar harus mengirim dua penguasa pentingnya bersama Laksamana ke Batavia untuk menyerahkan perjanjian ini kepada Gubernur-Jendral dan Dewan Hindia. Jika perjanjian ini disetujui, Gubernur-Jendral dapat menahan dua pangeran penting sebagai sandera selama yang dia inginkan.

  27. Lebih jauh tentang pasal 6, orang Inggris dan seluruh barang-barangnya yang ada di Makassar harus dibawa ke Batavia.

  28. Lebih jauh tentang pasal 15, jika Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu tidak ditemukan hidup atau mati dalam sepuluh hari, maka putra dari kedua penguasa harus ditahan.

  29. Pemerintah Gowa harus membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders dalam lima musim berturut-turut, baik dalam bentuk meriam, barang, emas, perak ataupun permata.

  30. Raja Makassar dan para bangsawannya, Laksamana sebagai wakil Kompeni, serta seluruh raja dan bangsawan yang termasuk dalam persekutuan ini harus bersumpah, menandatangani dan membubuhi cap untuk perjanjian ini atas nama Tuhan yang Suci pada hari Jumat, 18 November 1667.

IPS

PERUNDINGAN LINGARJATI

Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan ditandatangani secara sah kedua negara pada 25 Maret 1947.


Latar Belakang

Masuknya AFNEI yang diboncengi NICA ke Indonesia karena Jepang menetapkan 'status quo' di Indonesia menyebabkan terjadinya konflik antara Indonesia dengan Belanda, seperti contohnya Peristiwa 10 November, selain itu pemerintah Inggris menjadi penanggung jawab untuk menyelesaikan konflik politik dan militer di Asia, oleh sebab itu, Sir Archibald Clark Kerr, diplomat Inggris, mengundang Indonesia dan Belanda untuk berunding di Hooge Veluwe, namun perundingan tersebut gagal karena Indonesia meminta Belanda mengakui kedaulatannya atas Jawa,Sumatera dan Pulau Madura, namun Belanda hanya mau mengakui Indonesia atas Jawa dan Madura saja.


Misi pendahuluan

Pada akhir Agustus 1946, pemerintah Inggris mengirimkan Lord Killearn ke Indonesia untuk menyelesaikan perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Pada tanggal 7 Oktober 1946 bertempat di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta dibuka perundingan Indonesia-Belanda dengan dipimpin oleh Lord Killearn. Perundingan ini menghasilkan persetujuan gencatan senjata (14 Oktober) dan meratakan jalan ke arah perundingan di Linggarjati yang dimulai tanggal 11 November 1946.


Jalannya perundingan

Dalam perundingan ini Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir, Belanda diwakili oleh tim yang disebut Komisi Jendral dan dipimpin oleh Wim Schermerhorn dengan anggota H.J. van Mook,dan Lord Killearn dari Inggris bertindak sebagai mediator dalam perundingan ini.


Hasil perundingan

Hasil perundingan terdiri dari 17 pasal yang antara lain berisi:

  1. Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura.

  1. Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

  1. Pihak Belanda dan Indonesia Sepakat membentuk negara RIS.

  1. Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth /Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepala uni.




IPS

PERJANJIAN RENVILLE

Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.

Delegasi

 Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin Harahap. Delegasi Kerajaan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL Abdulkadir Widjojoatmodjo. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Frank Porter Graham

USS Renville

Gencatan senjata

Pemerintah RI dan Belanda sebelumnya pada 17 Agustus 1947 sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga ditandatanganinya Persetujuan Renville, tapi pertempuran terus terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar yang tidak termasuk TNI, dan sesekali unit pasukan TNI juga terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, seperti yang terjadi antara Karawang dan Bekasi.

Isi perjanjian

  1. Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia

  2. Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda

  3. TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur Indonesia di Yogyakarta..

Pasca perjanjian

Wilayah Indonesia di Pulau Jawa (warna merah) pasca perjanjan Renville.

Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI, dan pada bulan Februari 1948, Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah.

Tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap tentara Belanda. Setelah Soekarno dan Hatta ditangkap di Yogyakarta, S.M. Kartosuwiryo, yang menolak jabatan Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, Menganggap Negara Indonesia telah Kalah dan Bubar, kemudian ia mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hingga pada 7 Agustus 1949, di wilayah yang masih dikuasai Belanda waktu itu, Kartosuwiryo menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Referensi

  • Ide Anak Agung Gde Agung (1973) Twenty Years Indonesian Foreign Policy: 1945-1965 Mouton & Co ISBN 979-8139-06-2

  • Kahin, George McTurnan (1952) Nationalism and Revolution in Indonesia Cornell University Press, ISBN 0-8014-9108-8

  • Reid, Anthony (1974). The Indonesian National Revolution 1945-1950. Melbourne: Longman Pty Ltd. ISBN 0-582-71046-4.


PPKN

1. Sistem presidensial (presidensiil), atau disebut juga dengan sistem kongresional, merupakan sistem pemerintahan negara republik di mana kekuasan eksekutif dipilih melalui pemilu dan terpisah dengan kekuasan legislatif.
Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensiil terdiri dari 3 unsur yaitu:

  • Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahan dan mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan yang terkait.
  • Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa jabatan yang tetap, tidak bisa saling menjatuhkan.
  • Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan eksekutif dan badan legislatif.
Dalam sistem presidensial, presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak dapat dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya dukungan politik. Namun masih ada mekanisme untuk mengontrol presiden. Jika presiden melakukan pelanggaran konstitusi, pengkhianatan terhadap negara, dan terlibat masalah kriminal, posisi presiden bisa dijatuhkan. Bila ia diberhentikan karena pelanggaran-pelanggaran tertentu, biasanya seorang wakil presiden akan menggantikan posisinya.
Model ini dianut oleh Amerika Serikat, Filipina, Indonesia dan sebagian besar negara-negara Amerika Latin dan Amerika Tengah.

2. Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.[1]
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. [2] Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.[2]
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas.

3. Diktator adalah seorang pemimpin negara yang memerintah secara otoriter/tirani dan menindas rakyatnya. Biasanya seorang diktator naik takhta dengan menggunakan kekerasan, seringkali dengan sebuah kudeta. Tetapi ada pula diktator yang naik takhta secara demokratis. Contoh yang paling terkenal adalah Adolf Hitler.
Seringkali diktator dibedakan dengan despot. Seorang despot berkuasa secara sewenang-wenang pula, tetapi kadangkala ada pula despot yang 'baik'.
 Diktatorisme adalah sebuah paham yang artinya diambil dari kata "diktator" artinya orang yang memerintah suatu negara/pemerintahan dengan hak-hak dan kekuasaan absolut dan -isme yang berarti sebuah pemahaman maka disimpulkan diktatorisme adalah sebuah paham yang dianut oleh suatu negara untuk dipimpin oleh seorang pemimpin otoriter yang mempunyai hak dan kewajiban absolut. Adapun diktatorisme cenderung lebih banyak dipraktikkan di negara-negara Eropa seperti Jerman, Polandia, Perancis, dan Italia.

Selasa, 11 Maret 2014

Ballon D'or !!!

Sebuah Ajang Adu Popularitas Bernama FIFA Ballon D’Or


86saapb.jpg

"There is something that has changed in the Ballon d'Or since it went to FIFA.”
Kutipan di atas menjadi begitu menarik karena bukan fans, pemain yang patah hati karena gagal menang, atau pundit sepakbola yang mengucapkannya. Tetapi Michel Platini, Presiden UEFA. Dan ketika seseorang sebesarnya sampai memberikan komentar yang sinis seperti itu, kita tahu bahwa memang ada yang salah dengan gelaran akbar tahunan milik FIFA ini.
Sebetulnya, Platini bukan orang pertama yang menyadari dan secara terbuka mempertanyakan penghargaan yang kini menjadi simbol ‘terbaik di dunia’ di sepakbola tersebut. Komentar miring terhadap gelaran ini bahkan sudah muncul sejak Wesley Sneijder tidak masuk dalam posisi tiga besar di gelaran tahun 2010, meskipun ia menjadi bintang utama Internazionale Milan meraih treble di tahun itu: Scudetto, Liga Champions, dan Coppa Italia, sebuah pencapaian tertinggi pertama yang pernah diraih klub Italia. Menariknya, penghargaan Ballon d’Or pada tahun 2010 itu adalah yang pertama yang digelar setelah dilebur dengan penghargaan FIFA World Player of the Year, yang kian menegaskan keraguan terhadap kredibilitas penghargaan yang kini bernama FIFA Ballon d’Or ini.
Ballon d’Or sejatinya adalah penghargaan yang digelar oleh majalah sepakbola ternama France Football. Digelar pertama kali pada tahun 1956, awalnya penghargaan bola emas ini diberikan untuk pemain terbaik di Eropa yang berasal dari Eropa. Baru pada tahun 1995, syarat ‘pemain harus berwarganegaraan Eropa’ dicabut, dan pada tahun 2007, skala penghargaan diperbesar dan mencakup semua pemain sepakbola di dunia – bukan hanya yang bermain di benua biru.
Semasa masih dipegang penuh oleh France Football, cara pemilihan pemenang penghargaan ini adalah dengan mengumpulkan suara dari wartawan-wartawan sepakbola terpilih. Awalnya, ada 52 wartawan seantero Eropa yang diminta untuk memberikan suaranya untuk menentukan pemain terbaik di benua tersebut selama satu tahun terakhir. Pada tahun 2007, jumlah ini membengkak menjadi 96 jurnalis top sepakbola dari seluruh dunia, seiring dengan membesarnya skala penghargaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, Ballon d’Or pun menjadi penghargaan individual paling bergengsi di dunia sepakbola. Kredibilitasnya begitu tinggi, hingga penghargaan pemain terbaik milik FIFA, yang baru dimulai pada tahun 1991, tak mampu menyainginya. Awalnya, hal ini tidak terlalu masalah karena keduanya berbeda spektrum; jika Ballon d’Or hanya menilai pemain-pemain yang bermain di kompetisi Eropa, FIFA World Player of the World memberikan penilaian terhadap pemain-pemain dari seluruh dunia. Tetapi ketika Ballon d’Or memperbesar skalanya hingga seluruh dunia, penghargaan pemain terbaik dunia versi FIFA pun ‘terancam’ dan akhirnya badan sepakbola tertinggi di dunia itu mengajukan proposal untuk peleburan kedua penghargaan.
Meleburnya kedua penghargaan ini menyebabkan sistem pemilihan pun ikut melebur. Sistem pemilihan oleh para jurnalis sepakbola top dunia ala France Football disatukan dengan sistem pemilihan oleh pelatih-pelatih dan kapten-kapten tim nasional anggota FIFA, yang sebelumnya digunakan untuk FIFA World Player of the Year, untuk menentukan siapa pemenang FIFA Ballon d’Or. Jumlah pemilih pun membengkak (Saya agak malas menghitungnya, ada 17 halaman PDF para pemilih untuk kategori pesepakbola pria). Apakah ini hal yang bagus? Seharusnya memang terasa semakin demokratis, tetapi hasilnya ternyata tak terlalu positif.
Permasalahannya adalah, dengan membengkaknya jumlah pemilih, pada akhirnya ini tidak lagi seperti kontes pemain terbaik. Ini lebih seperti kontes pemain paling populer dalam setahun terakhir, dan pemain yang paling menyita perhatian (dan paling banyak disorot media) lah yang paling mungkin menang. Kegagalan Sneijder masuk tiga besar di tahun 2010 atau, misalnya, Andrea Pirlo di tahun 2012 adalah contoh bagaimana pemain-pemain yang mungkin ‘kurang populer’ sulit mendapatkan penghargaan ini. Atau bagaimana Franck Ribery, meski menjadi salah satu aktor utama keberhasilan Bayern Munich merebut treble musim lalu (yang berarti jumlah trofinya bersama tim lebih banyak daripada Messi atau Ronaldo musim lalu), hanya berada di posisi ketiga di Ballon d’Or 2013.
Permasalahan yang sama juga terjadi dalam penentuan FIFA/FIFPro World XI. Ada lebih dari 45.000 pemain sepakbola profesional yang menjadi anggota FIFPro yang berhak memilih susunan tim terbaik dunia dalam satu tahun terakhir, dan dengan jumlah pemilih yang begitu banyak, pada akhirnya, lagi-lagi, yang populer lah yang menang. Untuk World XI tahun 2013, misalnya, muncul fakta-fakta yang lucu, termasuk munculnya nama Sergio Ramos dan Dani Alves sebagai dua dari empat bek terbaik, padahal selama tahun 2013 ini, mereka benar-benar tak memberikan banyak permainan yang brilian, apalagi jika Anda membandingkannya dengan, misalnya, Dante atau bahkan Mats Hummels dari duo klub finalis Liga Champions 2013, Bayern Munich dan Borussia Dortmund. Yang lebih lucu, Ramos dan Alves bahkan mendapatkan lebih banyak suara daripada Lahm yang, menurut banyak jurnalis Eropa, bahkan seharusnya berhak masuk dalam tiga besar pemain terbaik dunia jika melihat performanya selama 2013 kemarin. Hal yang lebih lucu lagi: ada Iker Casillas di posisi kedua di belakang Manuel Neuer sebagai kiper terbaik selama 2013, meskipun, menurut Carlo Garganese, deputi editor GOAL.com Internasional, hanya bermain di tiga pertandingan La Liga selama tahun 2013 ini. Dagelan!
Pada akhirnya, Ballon d’Or, setidaknya sejak diambil alih FIFA, menjadi seperti sebuah kegiatan politik pesepakbola. Hal yang diakui sendiri oleh France Football, seperti dikutip oleh Ben Lyttleton dalam kolomnya di Sports Illustrated.

 “The Ballon D'or is not a prize, but a drama of intrigue, a political and sporting thriller where each athlete sells himself... where malice and shenanigans are never far away.”

Sepak Bola

Ditulis ulang dari buku “Principles of Brazilian Football” (Jose Thadeu Goncalves) oleh: Oetomo Rully Susanto


Pada pendidikan sepakbola usia muda, seorang pelatih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pemain melalui jaringan orang tua dan iklan di koran. Sangat penting untuk menjelaskan tujuan-tujuan sekolah sepakbola yang Anda kelola dan keuntungan dalam keikutsertaan dalam program sepakbola Anda.

Apabila anda melatih di tingkat sekolah atau universitas, evaluasi biasanya dilaksanakan setelah adanya komitmen kepada sang pemain. Referensi dari pelatih sebelumnya atau guru olahraga bisa menghemat waktu dalam seleksi pemain di tingkat sekolah atau universitas. Para pelatih di tingkat ini seringkali menemukan masalah sikap dan komitmen dari para pemain barunya, karena pada dasarnya tugas utama para pelajar ini adalah bersekolah atau kuliah. Karena itu perlu ditanyakan terlebih dahulu kepada calon pemain mengenai komitmen mereka serta cara mereka membagi waktu antara sepakbola dan sekolah/kuliah.

Apabila anda menjadi pelatih pada tingkat profesional, kualitas pasokan pemain menjadi faktor yang utama dalam seleksi pemain. Pemain bisa datang dari berbagai sumber. Banyak negara seperti Brazil, Belanda, Inggris dan Jerman, mengembangkan pemain bola profesional yang siap bertanding di usia muda. Sistem ini memberikan kesempatan bagi para pelatih untuk mendapatkan pemain yang bagus. Namun di negara seperti Indonesia, agak lebih sulit untuk menemukan pemain yang dididik dengan benar dan siap bermain secara sepakbola profesional.

Kita bisa meniru cara klub Brazil seperti E.C. Vitoria yang memiliki pencari bakat untuk mencari pemain muda yang memiliki kualitas. Prosesnya sebagai berikut:
  • Seorang pemain muda yang akan direkrut harus terlebih dahulu mengikuti ujian percobaan di kotanya/daerahnya.
  • Jika lulus, ia akan diundang untuk trial, berlatih dan bermain bersama dengan para pemain di kelompok umurnya di klub kita.
  • Perkembangannya selama beberapa waktu dipantau dan dicatat. Jika kemudian dirasa kemampuannya baik, pemain tersebut kemudian bisa dikontrak dengan masa percobaan selama beberapa bulan sebelum nantinya dikontrak permanen.

Klub-klub di Brazil memiliki aturan tidak resmi tentang jumlah ideal pemain yang direkrut sebagai bagian dari tim junior utama di tiap kelompok umur. Idealnya, jumlah pemain setiap tim kelompok umur adalah sekitar 28 orang. Ini berarti ketika mereka menemukan pemain baru dengan kualitas lebih baik, maka pemain yang sedang berada dalam tim bisa diminta untuk meninggalkan klub. Upaya mengembangkan pemain muda dalam sistem seperti ini memiliki resiko yang cukup besar jika pelatihan tidak dilakukan dengan benar karena adanya tekanan yang tak terhindarkan keatas para pemain muda ini untuk mencapai keberhasilan. Usia paling muda yang dianjurkan untuk pindah ke klub profesional adalah 14 tahun.


Tryout
 Sangatlah penting bagi Anda sebagai pelatih utama, untuk berhati-hati agar tidak mengacaukan kesatuan tim Anda. Rotasi pemain besar-besaran yang dilakukan berkali kali akan menimbulkan kelemahan pengembangan konsep taktik. Jika seorang pemain baru hadir dalam tryout atau ujian percobaan dalam rangka menggantikan seseorang yang mengenal filosofi pelatihan Anda, memahami konsep-konsep permainan dan memiliki sikap yang positif; sesungguhnya Anda harus benar-benar berpikir beberapa kali untuk menggantikan dia. Pemain baru ini harus benar-benar memiliki keterampilan teknik yang jauh lebih baik dan beberapa kualitas tertentu untuk posisi khusus yang Anda cari.

Anda harus menyusun rencana ujian percobaan yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.
Sangatlah penting bagi Anda untuk memahami karakteristik setiap posisi, dan bagaimana melakukan evaluasi terhadap para pemain yang ada dengan benar. Anda selalu bisa mengembangkan keterampilan teknik, memperbaiki konsep taktik dan aspek-aspek kondisi fisik, namun Anda perlu berhati-hati terhadap kepribadian dan sikap pemain terhadap tim nya.


Penjelasan Mengenai Kualitas

Teknik:
Kemampuan untuk melakukan keterampilan secara benar, mengambil keputusan yang tepat dibawah tekanan.
1. Dalam proses pengembangan.
2. Harus memiliki kemampuan untuk melakukannya dalam berbagai situasi tekanan.
3. Harus mampu untuk menunjukkan kinerjanya dalam berbagai situasi tekanan.

Kepemimpinan:
1. Hal ini penting bagi pemain ini untuk memiliki sejumlah keterampilan komunikasi, dan mampu membantu tim, khususnya ketika dibawah situasi tekanan
2. Pemain dengan kapasitas untuk memimpin tim sepanjang pertandingan. Dia mampu menyampaikan dan menyokong perintah pelatih.

Jenis fisik:
Karakter fisik pemain
1. Tubuh atletis apapun dapat diterima
2. Dibutuhkan beberapa aspek spesifik seperti: tinggi, kuat, kecil dan kuat, kurus, dll.
3. Seorang pemain yang memenuhi seluruh kebutuhan yang diperlukan sebagai atlit yang baik dalam hal ukuran, kekuatan, dll. Kami merasa perlu untuk menyampaikan bahwa dalam metode kami, ukuran dan kecepatan adalah merupakan faktor penting bagi posisi bertahan bagian dalam seperti: swiper, stoper (pemain bertahan bagian dalam) dan pemain tengah bertahan.

Kecepatan:
1. Tidak perlu memiliki kecepatan tinggi dalam mengambil keputusan, dengan atau tanpa bola.
2. Kecepatan pada umumnya.
3. Kecepatan merupakan faktor penting untuk melaksanakan gaya permainan apapun.

Sebuah evaluasi teknik/taktik diperlukan untuk memberikan kesempatan yang cukup bagi pelatih untuk mengamati seluruh pemain yang tertarik melaksanakan program ini.

Anda harus mendapatkan sejumlah minimum peserta ujian percobaan dalam rangka menciptakan suasana persaingan dan tantangan yang dibutuhkan untuk menciptakan tekanan terhadap seluruh peserta.

Jumlah minimal pemain untuk sebuah ujian percobaan yang efektif adalah:
U11 sampai profesional – 20 orang pemain lapangan dan 2 orang penjaga gawang
U10 – 16 orang pemain dan 2 penjaga gawang (bukan ujian percobaan, hanya penempatan)
U8 – 10 pemain (semua diuji menjadi penjaga gawang) (bukan ujian percobaan, hanya penempatan) Tim A/B

Ujian percobaan di tingkat universitas atau tingkat lanjut perlu melibatkan pemain yang lebih dewasa dan berpengalaman untuk memberikan tantangan yang dibutuhkan dan menambah jumlah pemain.

Para pemain harus melalui proses pendaftaran dan mendapatkan nomor yang dipasang dibagian dada dan punggung.  Para pembantu pelatih akan diberi lembaran formulir dengan informasi sebagai berikut: Nama pemain, tanggal lahir, posisi yang disukai, nomor punggung.

Lokasi pengamatan harus ditentukan untuk melakukan evaluasi. Setiap pelatih yang ditugasi untuk setiap lokasi pengamatan harus dapat menjelaskan: Bagaimana cara melakukan?; Kapan menerapkan?; Mengapa menggunakan?; Aspek-aspek taktik atau teknik permainan.  Lokasi pengamatan harus dibagi berdasarkan jumlah pemain yang akan dievaluasi.

Jangan pernah mengijinkan lebih dari 10 pemain pada sebuah lokasi pengamatan dan jangan biarkan waktu ujian percobaan lebih lama daripada 3 jam untuk U15 keatas (termasuk profesional) dan 2 jam untuk U14 kebawah. Kualitas kinerja para pemain akan menurun dan pengambilan keputusan serta pengamatan yang keliru sangat mungkin bisa terjadi.

Pada setiap lokasi pengamatan, pertahankanlah keseimbangan kualitas pemain selama kondisi pertandingan.  Para pemain terbaik harus ditempatkan bersama pada akhir evaluasi untuk bertanding secara penuh tanpa batasan. Sekarang inilah waktu pengambilan keputusan.


Persiapan Sebelum Seleksi

Pemanasan – 15 menit
Para pemain Brazil melakukan pemanasan tanpa bola dan melakukan peregangan. Para pemain muda membutuhkan penjelasan lebih mengenai gerakan dan langkah-langkah pemanasan yang benar. Pemanasan yang baik merupakan sebuah keharusan sebelum memulai ujian percobaan. Para pelatih akan lebih mampu untuk melakukan evaluasi koordinasi tubuh para pemain.

Lokasi pengamatan #1
1 v 1 dengan dua buah gawang. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi keterampilan teknik dan pengambilan keputusan (baik bertahan maupun menyerang) dalam situasi tekanan pada umumnya. Gunakan dua buah gawang berukuran biasa untuk setiap kelompok umur yang Anda evaluasi. Masing-masing pemain harus diberi bola.
Mengenai durasi, kami menyarankan:
a. U10 dan dibawahnya – 10 detik
b. U14 dan dibawahnya – 15 detik
c. U15 dan diatasnya – 20 detik

Waktu ini didasarkan kepada tingkatan kemampuan untuk menjaga penguasaan bola dan mencetak gol atau mempertahankan gawang. Waktu maksimum yang diperbolehkan adalah 20 detik.

Hal-hal untuk diamati: Aspek-aspek penyerangan dan pertahanan individual. Sangatlah penting untuk menjelaskan dan menunjukkan aspek apa saja yang akan Anda amati.

Bertahan
- Kapan waktunya pemain harus merebut bola dengan menjegal atau menahan untuk mengulur waktu
- Garis pertahanan (pemain harus berada diantara pusat gawang dengan bola)
- Posisi tubuh: satu kaki didepan, lutut harus dalam keadaan tertekuk, bagian atas tubuh membungkuk dan tangan naik.

Menyerang
Opsi #1 – Jika pemain bertahan maju dengan tekanan yang cukup kuat dan menahan laju serangan, penyerang harus:
- menggunakan kaki bagian luar kearah bagian kaki yang lemah dari pemain bertahan
- lalu memotong kedalam dan menendang

Opsi #2 – Jika pemain bertahan maju terlalu cepat, tanpa berhasil mengendalikan diri, pemain menyerang harus:
- melakukan manuver untuk melewati pemain bertahan tersebut secepat mungkin dengan menggunakan keterampilan penguasaan bola individunya.

Opsi #3 – Jika pemain bertahan maju terlalu lambat untuk melakukan tekanan, pemain menyerang harus:
- menendang tembakan ke gawang dengan segera

Lokasi pengamatan #2
Pertandingan di lapangan ukuran biasa atau yang lebih kecil dengan tiga gawang. Tujuan dari lokasi pengamatan ini adalah untuk mengevaluasi

Sepak Bola

Menjadi Pemain Sepak Bola Terkenal adalah Impian Semua Laki - Laki

 Dari dahulu sampai sekarang saya sangat bercita - cita ingin menjadi pemain sepak bola yang terkenal, tetapi saya merasa diri saya tidak akan mungkin bisa mendapatkan itu semua. Karena lingkungan saya dan fisik saya pun sangat tidak mendukung sebab oleh karena itu lah sampai sekarang cita - cita ku untuk menjadi pemain sepak bola pun sirnah.
Lingkungan dalam rumah saya sangat tidak mendukung, seperti contoh kedua orang tua saya yang sudah menggangap remeh dengan saya bilang saya ingin masuk sekolah sepak bola. Mereka bilang kepadaku “Buat apa hal seperti itu? tidak ada gunanya lebih baik kamu belajar ilmu pelajaran” Saya mengerti apa sih yang ada di jalan pikiran mereka, tapi saya merasa apakah pantas cita - cita seorang anak di halangi seperti itu.
Ilmu pelajaran tak selamanya harus di pelajari, kita harus mengimbangkan ilmu olahraga untuk kesehatan jasmani kita. agar otak kita juga bisa berfikir cerdas jika tubuh kita dalam keadaan sehat. Apa susahnya sih bila kita mengimbangkan pelajaran dan olahraga kita juga butuh refreshing untuk otak kita, Jika tadi ada keluarga yang membuat halangan ku di lingkungan kini ada teman - teman sekitarku.
Tidak satupun dari temanku yang menyukai sepak bola, maklum karena sebagian teman ku adalah pemain warnet dan gila game. Jika aku saja tidak di masukkan kedalam sekolah sepak bola oleh orang tuaku dan teman - teman yang dekat dengan ku pun tak tau apa itu sepak bola, apakah pantas saya masih memimpikan menjadi pemain sepak bola yang terkenal.
Selain faktor lingkungan yang ada pun saya masih punya problem di masalah fisik dulu badan saya sangatlah gemuk dan yang pasti gerak saya sangatlah lambat, belum di tambah karena jarang olahraga nafas saya pun tidak tahan ketika lari terlalu jauh, cepat cape dan mudah sakit bila sudah mulai kecapean. Disitu pun saya berfikir Lingkungan sudah tidak mendukung di Tambah fisik yang lebih tidak mendukung bagaimana caranya agar semuanya bisa tercapai.
Saya tetap tidak menyerah bagiku semua itu adalah rintangan yang sangat berat, tetapi dalam pemikiran saya pun meskipun ini mustahil tapi jika tekad saya sudah bulat maka harus di teruskan. Saya mencoba untuk sering lari pada pagi hari dan sore hari, mencoba untuk mengurangi makan lalu banyak makan dan minuman bergizi. Dari situlah saya pernah berfikir bahwa saya pasti bisa menjadi pemain sepak bola terkenal dan menunjukan kepada mereka semua yang tidak pernah mendukungku.
Lama kemudian saya sudah mulai kurus dan fisik saya mulai kuat untuk lari, suatu waktu ada seorang pelatih di SMA saya pun melihat saya dengan postur tubuh yang tinggi dan kurus. dia pun mengajak ku untuk bermain di tim futsal yang sudah lama dia bentuk di sekolah, saya pun mulai terkejut saya sempat berfikir “apakah ini awal karirku?” akan tetapi dia mengajak ku untuk bermain futsal bukan untuk bermain football yang selama ini kita kenal sebagai sepak bola, Saya  pun bertanya “Loh pak, apa sih futsal itu?” Pelatih itu pun bilang “Futsal itu semacam sepak bola tetapi menggunakan lapangan yang kecil dan tidak berumput dan hanya di mainkan oleh 5 orang pemain”.
Disitu pun aku mulai berfikir, bukan ini sepak bola yang ku mau. Sepak bola yang saya mau adalah sepak bola yang banyak orang tahu dan bisa menjadi salah satu timnas garuda itu adalah cita - citaku dari dahulu. Tetapi aku pun mulai berfikir mungkin aku bisa berlatih dari sini, karena disini lah aku bisa lebih mendekatkan diri kepada sepak bola. Pada suatu hari saya datang pada latihan futsal di sekolah saya, dan saya pun mulai bermain disitu.
Ketika saya bermain saya pun bingung saya harus bagaimana, Karena saya pun memang tidak mengetahui cara bermain bola itu seperti apa. Disitu mereka mulai mencela dan menghina saya karena saya yang tidak bisa main. Saya pun tidak terima dengan semua itu, saya mulai giat latihan dan mencoba untuk menjadi seperti mereka. Akan tetapi lambat tahun saya latihan perkembangan saya tidak seperti mereka.
Suatu waktu saya dan tim saya mengikuti turnament futsal disitu saya pun hanya duduk di bangku cadangan saja, saya melihat tim saya yang menurut saya pun sudah cukup hebat. Tetapi saya melihat yang ada turnament itu mainnya lebih hebat dari teman - teman tim saya, dan hasilnya tim saya pun kalah oleh mereka. saya pun berfikir ini saja saya yang tidak bisa main begini belum ikutan main gimana sudah main bisa - bisa tim saya akan kalah jauh.
Sepulang dari turnament itu saya pun sempat berbicara dalam hati “Apakah Tuhan itu Adil?” Saya berfikir kenapa hanya orang yang mempunyai talent saja yang bisa bermain sepak bola, Apakah hanya orang yang bertalent yang bisa hidup di Dunia, Apakah orang yang mempunyai niat dan tekad yang bulat tidak bisa untuk menggapai itu semua? memang saya menyadari bahwa talent saya tidak lah disitu. Tetapi apa salahnya jika jika kita mencoba itu semua dari nol dan membuat mereka semua mengenal kita dari olahraga itu.
Karena menurut saya menjadi pemain sepak bola terkenal adalah impian semua laki - laki sejak ia masih anak - anak dan ketika ia Dewasa tetapi kenapa harus seperti ini hanya orang yang bertalent lah yang bisa menggapainya. Latihan dan kerja keras pun tidak akan bisa membuat orang yang mempunyai talent itu kalah. Tetapi jika kalian mempunyai talent dalam sepak bola, sekali lagi saya ingatkan jengan pernah meninggalkannya karena banyak orang yang ini seperti anda.
Sekian dan terima kasih sedikit kisah kehidupan dan cita - cita saya bagi anda yang membaca cerpen dari saya ini saya sangat berterima kasih banyak, Karena saya disini hanya ini mengingatkan untuk orang yang benar - benar mempunyai talent dalam bakat jangan di tinggalkan, karena orang yang melakukan dengan latihan dan kerja keras pun. dengan mudah bisa di kalahkan oleh orang - orang yang mempunyai talent (bakat). Demikianlah kata penutup dari saya juga ada kesalahan kata - kata saya minta maaf.