Senin, 18 Januari 2016

Persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Artikel ini memusatkan perhatian pada pemahaman yang khas dalam hubungan antar pribadi. Dalam pengertian ini, istilah "persahabatan" menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiaan satu sama lain, seringkali hingga pada altruisme. selera mereka biasanya serupa dan mungkin saling bertemu, dan mereka menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Mereka juga akan terlibat dalam perilaku yang saling menolong, seperti tukar-menukar nasihat dan saling menolong dalam kesulitan. Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang berbalasan dan reflektif. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakiti mereka.
Nilai yang terdapat dalam persahabatan seringkali apa yang dihasilkan ketika seorang sahabat memperlihatkan secara konsisten:
Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong. Dibandingkan dengan hubungan pribadi, persahabatan dianggap lebih dekat daripada sekadar kenalan, meskipun dalam persahabatan atau hubungan antar kenalan terdapat tingkat keintiman yang berbeda-beda. Bagi banyak orang, persahabatan dan hubungan antar kenalan terdapat dalam kontinum yang sama.
Disiplin-disiplin utama yang mempelajari persahabatan adalah sosiologi, antropologi dan zoologi. Berbagai teori tentang persahabatan telah dikemukakan, di antaranya adalah psikologi sosial, teori pertukaran sosial, teori keadilan, dialektika relasional, dan tingkat keakraban. Lihat Hubungan antar-pribadi
Dua orang sahabat
 
#RhadaAnugrahPutra

Arti Kesuksesan yang sebenar nya menurut Islam

ARTI SUKSES MENURUT ISLAM

Semua orang ingin sukses, tapi tidak semua orang berhasil sukses. Kenapa? Masalahnya cuma satu: gagal menemukan arti sukses sebenarnya.

Ada orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang sederhana. Akhirnya, ia pun merasa sudah mencapai sukses meski tanpa berbuat apa-apa. Mengalir seperti air apa adanya, begitu katanya.


Ada juga orang yang merumuskan arti sukses dengan pengertian yang rumit. Akhirnya, ia pun merasa sulit mencapai sukses, ya sudah mau bilang apa? pasrah aja, barangkali sudah takdir, begitu katanya.

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Sukses adalah sebuah pencapaian. Apa yang hendak dicapai?
Sukses adalah bergerak maju mencapai tujuan. Kemana hendak dituju?
Sukses adalah mendapatkan sesuatu yang dikehendaki. Apakah itu?
Sukses adalah sebuah proses perjalanan. Tanpa mendapatkan sesuatu?
Sukses adalah memperoleh penghargaan. Dari siapa?

Jadi, apa arti sukses sebenarnya?

Mari kita bertanya kepada Yang Maha mengetahui dan Maha Bijaksana.

Dia berfirman:
لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya? (QS. 21:10)

Kemuliaan = Kesuksesan, setuju kan?

Kalau begitu, mari kita membaca Alquran untuk memahami:

Apakah arti sukses?
Bagaimanakah mencapai sukses?
Siapakah orang sukses itu?
Apakah arti sukses?

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. 3:185)

Jadi, sukses adalah masuk surga. Terserah apa profesi kita hari ini, yang penting kita bisa masuk surga. Setuju?

Bagaimanakah cara mencapai sukses? Bagaimanakah cara masuk surga?

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ
وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ
قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertolongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214)

Sukses bukan khayalan. Sukses hanya dicapai dengan perjuangan dan pengorbanan. Berat ya? jangan khawatir, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Allah akan menolong kita sebagaimana Allah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman sebelum kita.

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS. 40:51)

Pantaskah kita mendapatkan pertolongan Allah?
Bukan soal pantas tidak pantas, yang  jadi soal, apakah kita sedang berjuang mencapai sukses hingga Allah berkenan memberikan pertolongan-Nya? Siapa yang berjuang, dialah yang ditolong.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)

Nah, jika Allah sudah memberikan pertolongan, apakah masih terasa berat perjuangan menuju sukses sejati?

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat
menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaknya kepada Allah saja orang-orang mumin bertawakkal. (QS. 3:160)

Bertawakkal kepada Allah = menyerahkan segala urusan kepada Allah = menyelesaikan segala urusan dengan cara-cara Allah = caranya pakai cara Allah, ya hasilnya terserah Allah. Habis perkara.
Kalau mau pakai cara-cara sendiri, ya sudah selesaikan sendiri. Rugi ga ditanggung ya.. :-)

Jadi, bagaimana soal urusan mencapai sukses sejati, yaitu mencapai surga?
Jawabnya cuma satu: pakai cara Allah, jangan pakai cara sendiri!

Selasa, 22 April 2014

I am very happy

Football Is My Life



SEPAK BOLA


Walau keringat bercucuran membasahi tubuh
Tak akan bisa hentikan jiwa dan semangat
Dalam arena permainan penuh wahana

Dengan segelintir gumpalan gas berbaju
Kaki mainkan penuh gairah
Mencoba lewati lawan yang menghadang

Dengan dua buah tiang diusudut lapang
Benda rongsok pun jadi bila tak ada
Untuk jadikan sasaran dari permainan

Panas mentari tidak bisa hentikan
Hujan deras tak bisa memadamkan
Semangat dari permainan nomor satu di dunia
Gairah dari permaianan semua insan di di muka bumi

Sepak bola itulah namanya
Negeri ratu Elizabets pencetusnya
Piala Dunia panngung terbesarnya
Liga Itali kompetisi terbaiknya
Indonesia pun ikut terjamah

Tidak cuma kaki yang bergerak
Pikiran dan jiwapun ikut bermain
Menciptakan sensasi dan sportivitas
Mewujudkan keindahan dan kesatuan rasa

Sepakbola itulah namanya
Tidak hanya milik para bangsawan
Orang jelata pun bisa merasakan
Sepak bola adalah universal
Sepak bola itulah namanya
Tidak hanya di atas stadion megah
Diatas lahan rakyat pun jadi
Sepak bola adalah kebahagiaan bersama

Ex: Rhada Anugrah Putra

Curhatan Hati

          Perjalan hidup sebagai pemain sepak bola itu sangat tak mudah, tidak seperti bayangan atau pandangan orang lain tentang pemain sepak bola (seniman lapangan hijau) yang banyak uang dan bergelimang harta.

          Panas kepanasan hujan kehujanan kami rasakan saat latihan disaat masih mengejar yang nama nya impian. Sedih jika mengingat waktu saat latihan jika kehujanan yang bisa berdampak sakit tapi semua itu kami rasakan dan kami simpan baik baik dan kami ceritakan nanti jika kami sukses kelak Aminn..

PwdNVNSKota Depok yang dikenal sebagai kota belimbing, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, terletak diantara kota Jakarta dan Bogor. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’ 00” – 6o 28’ 00” Lintang Selatan dan 106o 43’ 00” – 106o  55’ 30” Bujur Timur. Kata Depok, konon berasal dari kata bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun ada yang menyebutkan bahwa kata DEPOK bczcerasal dari sebuah nama Padepokan Kristiani yang bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.
Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus juga disingkat Depok. Atau ada juga yang mengatakan akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama.Depok Zaman PrasejarahPenemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir “Gagang Golok”, Punden berundak “Sumur Bandung”, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres.
Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:
  • Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
  • Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
  • Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
  • Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.
Depok Zaman IslamPengaruh Islam masuk ke Depok diperkirakan pada 1527, dan masuknya agama Islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia.
Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat. Jalan pintas terdekat yaitu melalui Depok. Karena itu tidaklah meng-herankan kalau di Sawangan dan banyak peninggalan- peninggalan tentara Banten berupa :
  • Kramat Beji yang terletak antara Perumnas Depok I dan Depok Utara. Di sekitar tempat itu terdapat tujuh sumur dan sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak sekali senjata kuno seperti keris, tombak dan golok peninggalan tentara Banter saat melawan VOC. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah itu bukanlah petani melainkan tentara pada jamannya. Informasi dari Kuncen turun temurun, bahwa tempat itu sering diadakan pertemuan antara tentara kerajaan Banten dan Cirebon. Di tempat itu biasanya diadakan latihar bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut pade-pokan. Kemungkinan nama Depok juga bersumber dari Pa-depokan Beji.
  • Di Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno yang merupakan masjid pertama di Bogor. Lokasi masjid ini dengan Bojong Gede hanya terhalang Sungai Ciliwung. Masjid ini dibangun Raden Safe’i cucu Pangeran Sangiang bergelar Prabu Sura-wisesa, yang pernah menjadi raja mandala di Muara Beres. Di rumah-rumah penduduk sekitar masjid ini masih terdapat senjata-senjata kuno dan beberapa buah kujang peninggalan zaman Padjajaran. Jadi masjid dibangun tentara padjajaran yang masuk Islam kurang lebih tahun 1550.
  • Di Bojong Gede terdapat makam Ratu Anti atau Ratu Mae-munah, seorang prajurit Banten yang berjuang melawan padja-jaran di kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (raden pakpak) menyebarkan agama Islam di Priangan, sedangkan ratu anti sendiri menetap di bojonggede sambil menyebarkan agama Islam sampai meninggal.
Depok Zaman Kolonial“…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennj a tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennj a,…”Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714. Cornelis Chastelein itulah yang disebut cikal bakal berdirinya Kota Depok sekarang. Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), ia diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang.Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 ha, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di-ganggu.
Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.
Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.Pada masa kejayaan VOC sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 hampir semua orang Belanda di Batavia dan sekitarnya yang kaya raya memiliki sejumlah besar pekerja. Tumbuh kembangnya jumlah pekerja antara lain disebabkan kemenangan-kemenang an yang diraih VOC atau Belanda dalam menguasai suatu daerah, yang kemudian diangkut ke Pulau Jawa.
Pada era tersebut, hidup seorang tuan tanah dermawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan agama Kristen di Batavia dan sekitarnya. Beliau adalah Cornelis Chastelein yang menjadi anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg.
Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan.Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten-tangan dengan hati nurani penginjil ini.
Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.Pada 18 Mei 1696, ia membeli tiga bidang tanah di hutan sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai melalui Sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di 6ilangan Mampang, Karanganyar, dan Depok.
Tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang per-tanian di bilangan Seringsing (Serengseng) .Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia mendatangkan pekerja dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ternate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya.
Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.Menjelang ajalnya, 13 Maret 1714, Cornelis Chastelein menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe-kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit.
Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi-bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas-telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhoks.
Marga itu kini hanya tinggal 11 buah karena marga Zadoks telah punah.Anthony, putra Cornelis Chastelein, meninggal pada 1715, satu tahun setelah ayahnya meninggal. Istri Anthony kemudian menikah dengan Mr. Joan Francois De Witte Van Schooten, anggota dari Agtb. Raad van Justitie des casteels Batavia.Di Depok saat ini masih terdapat Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.
- See more at: http://depoknews.com/sejarah-kota-depok/#sthash.3sQhuFRV.dpuf
Kota Depok yang dikenal sebagai kota belimbing, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, terletak diantara kota Jakarta dan Bogor. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’ 00” – 6o 28’ 00” Lintang Selatan dan 106o 43’ 00” – 106o  55’ 30” Bujur Timur. Kata Depok, konon berasal dari kata bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun ada yang menyebutkan bahwa kata DEPOK berasal dari sebuah nama Padepokan Kristiani yang bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.
Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus juga disingkat Depok. Atau ada juga yang mengatakan akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama.Depok Zaman PrasejarahPenemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir “Gagang Golok”, Punden berundak “Sumur Bandung”, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres.
Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:
  • Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
  • Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
  • Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
  • Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.
Depok Zaman IslamPengaruh Islam masuk ke Depok diperkirakan pada 1527, dan masuknya agama Islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia.
Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat. Jalan pintas terdekat yaitu melalui Depok. Karena itu tidaklah meng-herankan kalau di Sawangan dan banyak peninggalan- peninggalan tentara Banten berupa :
  • Kramat Beji yang terletak antara Perumnas Depok I dan Depok Utara. Di sekitar tempat itu terdapat tujuh sumur dan sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak sekali senjata kuno seperti keris, tombak dan golok peninggalan tentara Banter saat melawan VOC. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah itu bukanlah petani melainkan tentara pada jamannya. Informasi dari Kuncen turun temurun, bahwa tempat itu sering diadakan pertemuan antara tentara kerajaan Banten dan Cirebon. Di tempat itu biasanya diadakan latihar bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut pade-pokan. Kemungkinan nama Depok juga bersumber dari Pa-depokan Beji.
  • Di Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno yang merupakan masjid pertama di Bogor. Lokasi masjid ini dengan Bojong Gede hanya terhalang Sungai Ciliwung. Masjid ini dibangun Raden Safe’i cucu Pangeran Sangiang bergelar Prabu Sura-wisesa, yang pernah menjadi raja mandala di Muara Beres. Di rumah-rumah penduduk sekitar masjid ini masih terdapat senjata-senjata kuno dan beberapa buah kujang peninggalan zaman Padjajaran. Jadi masjid dibangun tentara padjajaran yang masuk Islam kurang lebih tahun 1550.
  • Di Bojong Gede terdapat makam Ratu Anti atau Ratu Mae-munah, seorang prajurit Banten yang berjuang melawan padja-jaran di kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (raden pakpak) menyebarkan agama Islam di Priangan, sedangkan ratu anti sendiri menetap di bojonggede sambil menyebarkan agama Islam sampai meninggal.
Depok Zaman Kolonial“…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennj a tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennj a,…”Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714. Cornelis Chastelein itulah yang disebut cikal bakal berdirinya Kota Depok sekarang. Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), ia diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang.Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 ha, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di-ganggu.
Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.
Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.Pada masa kejayaan VOC sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 hampir semua orang Belanda di Batavia dan sekitarnya yang kaya raya memiliki sejumlah besar pekerja. Tumbuh kembangnya jumlah pekerja antara lain disebabkan kemenangan-kemenang an yang diraih VOC atau Belanda dalam menguasai suatu daerah, yang kemudian diangkut ke Pulau Jawa.
Pada era tersebut, hidup seorang tuan tanah dermawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan agama Kristen di Batavia dan sekitarnya. Beliau adalah Cornelis Chastelein yang menjadi anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg.
Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan.Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten-tangan dengan hati nurani penginjil ini.
Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.Pada 18 Mei 1696, ia membeli tiga bidang tanah di hutan sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai melalui Sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di 6ilangan Mampang, Karanganyar, dan Depok.
Tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang per-tanian di bilangan Seringsing (Serengseng) .Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia mendatangkan pekerja dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ternate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya.
Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.Menjelang ajalnya, 13 Maret 1714, Cornelis Chastelein menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe-kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit.
Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi-bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas-telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhoks.
Marga itu kini hanya tinggal 11 buah karena marga Zadoks telah punah.Anthony, putra Cornelis Chastelein, meninggal pada 1715, satu tahun setelah ayahnya meninggal. Istri Anthony kemudian menikah dengan Mr. Joan Francois De Witte Van Schooten, anggota dari Agtb. Raad van Justitie des casteels Batavia.Di Depok saat ini masih terdapat Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.
- See more at: http://depoknews.com/sejarah-kota-depok/#sthash.3sQhuFRV.dpuf
Kota Depok yang dikenal sebagai kota belimbing, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, terletak diantara kota Jakarta dan Bogor. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’ 00” – 6o 28’ 00” Lintang Selatan dan 106o 43’ 00” – 106o  55’ 30” Bujur Timur. Kata Depok, konon berasal dari kata bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun ada yang menyebutkan bahwa kata DEPOK berasal dari sebuah nama Padepokan Kristiani yang bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.
Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus juga disingkat Depok. Atau ada juga yang mengatakan akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama.Depok Zaman PrasejarahPenemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir “Gagang Golok”, Punden berundak “Sumur Bandung”, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres.
Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:
  • Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
  • Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
  • Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
  • Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.
Depok Zaman IslamPengaruh Islam masuk ke Depok diperkirakan pada 1527, dan masuknya agama Islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia.
Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat. Jalan pintas terdekat yaitu melalui Depok. Karena itu tidaklah meng-herankan kalau di Sawangan dan banyak peninggalan- peninggalan tentara Banten berupa :
  • Kramat Beji yang terletak antara Perumnas Depok I dan Depok Utara. Di sekitar tempat itu terdapat tujuh sumur dan sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak sekali senjata kuno seperti keris, tombak dan golok peninggalan tentara Banter saat melawan VOC. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah itu bukanlah petani melainkan tentara pada jamannya. Informasi dari Kuncen turun temurun, bahwa tempat itu sering diadakan pertemuan antara tentara kerajaan Banten dan Cirebon. Di tempat itu biasanya diadakan latihar bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut pade-pokan. Kemungkinan nama Depok juga bersumber dari Pa-depokan Beji.
  • Di Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno yang merupakan masjid pertama di Bogor. Lokasi masjid ini dengan Bojong Gede hanya terhalang Sungai Ciliwung. Masjid ini dibangun Raden Safe’i cucu Pangeran Sangiang bergelar Prabu Sura-wisesa, yang pernah menjadi raja mandala di Muara Beres. Di rumah-rumah penduduk sekitar masjid ini masih terdapat senjata-senjata kuno dan beberapa buah kujang peninggalan zaman Padjajaran. Jadi masjid dibangun tentara padjajaran yang masuk Islam kurang lebih tahun 1550.
  • Di Bojong Gede terdapat makam Ratu Anti atau Ratu Mae-munah, seorang prajurit Banten yang berjuang melawan padja-jaran di kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (raden pakpak) menyebarkan agama Islam di Priangan, sedangkan ratu anti sendiri menetap di bojonggede sambil menyebarkan agama Islam sampai meninggal.
Depok Zaman Kolonial“…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennj a tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennj a,…”Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714. Cornelis Chastelein itulah yang disebut cikal bakal berdirinya Kota Depok sekarang. Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), ia diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang.Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 ha, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di-ganggu.
Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.
Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.Pada masa kejayaan VOC sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 hampir semua orang Belanda di Batavia dan sekitarnya yang kaya raya memiliki sejumlah besar pekerja. Tumbuh kembangnya jumlah pekerja antara lain disebabkan kemenangan-kemenang an yang diraih VOC atau Belanda dalam menguasai suatu daerah, yang kemudian diangkut ke Pulau Jawa.
Pada era tersebut, hidup seorang tuan tanah dermawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan agama Kristen di Batavia dan sekitarnya. Beliau adalah Cornelis Chastelein yang menjadi anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg.
Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan.Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten-tangan dengan hati nurani penginjil ini.
Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.Pada 18 Mei 1696, ia membeli tiga bidang tanah di hutan sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai melalui Sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di 6ilangan Mampang, Karanganyar, dan Depok.
Tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang per-tanian di bilangan Seringsing (Serengseng) .Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia mendatangkan pekerja dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ternate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya.
Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.Menjelang ajalnya, 13 Maret 1714, Cornelis Chastelein menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe-kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit.
Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi-bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas-telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhoks.
Marga itu kini hanya tinggal 11 buah karena marga Zadoks telah punah.Anthony, putra Cornelis Chastelein, meninggal pada 1715, satu tahun setelah ayahnya meninggal. Istri Anthony kemudian menikah dengan Mr. Joan Francois De Witte Van Schooten, anggota dari Agtb. Raad van Justitie des casteels Batavia.Di Depok saat ini masih terdapat Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.
- See more at: http://depoknews.com/sejarah-kota-depok/#sthash.3sQhuFRV.dpuf
Kota Depok yang dikenal sebagai kota belimbing, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, terletak diantara kota Jakarta dan Bogor. Secara geografis Kota Depok terletak pada koordinat 6o 19’ 00” – 6o 28’ 00” Lintang Selatan dan 106o 43’ 00” – 106o  55’ 30” Bujur Timur. Kata Depok, konon berasal dari kata bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun ada yang menyebutkan bahwa kata DEPOK berasal dari sebuah nama Padepokan Kristiani yang bernama De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.
Semboyan mereka Deze Einheid Predikt Ons Kristus juga disingkat Depok. Atau ada juga yang mengatakan akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama.Depok Zaman PrasejarahPenemuan benda bersejarah di wilayah Depok dan sekitarnya menunjukkan bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah. Penemuan tersebut itu berupa Menhir “Gagang Golok”, Punden berundak “Sumur Bandung”, Kapak Persegi dan Pahat Batu, yang merupakan peninggalan zaman megalit. Juga penemuan Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakan peninggalan zaman Neolit.
Depok Zaman Padjajaran Pada abad ke-14 Kerajaan Padjajaran diperintah seorang raja yang diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan, yang lebih dikenal dengan gelar Prabu Siliwangi. Di sepanjang Sungai Ciliwung terdapat beberapa kerajaan kecil di bawah kekuasaan kerajaan ini, diantaranya Kerajaan Muara Beres.
Sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan terhadap serangan pasukan Jayakarta yang dibantu Demak, Cirebon dan Banten.Depok berjarak sekitar 13 km sebelah utara Muara Beres. Jadi wajar apabila Depok dijadikan front terdepan tentara Jayakarta saat berperang melawan Padjajaran. Hal itu dibuktikan dengan:
  • Masih terdapatnya nama-nama kampung atau desa yang menggunakan bahasa Sunda antara lain Parung Serang, Parung Belimbing, Parung Malela, Parung Bingung, Cisalak, Karang Anyar dan lain-lain.
  • Dr. NJ. Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran di Nagela, yang tersimpan di Museum Jakarta.
  • Tahun 1709 Abraham Van Riebeck menemukan benteng kuno peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan.
  • Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata ini mereka terima turun-temurun.
Depok Zaman IslamPengaruh Islam masuk ke Depok diperkirakan pada 1527, dan masuknya agama Islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut Verenigde Oost-lndische Compagnie (VOC) yang pada waktu itu berkedudukan di Batavia.
Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut VOC harus melalui jalan darat. Jalan pintas terdekat yaitu melalui Depok. Karena itu tidaklah meng-herankan kalau di Sawangan dan banyak peninggalan- peninggalan tentara Banten berupa :
  • Kramat Beji yang terletak antara Perumnas Depok I dan Depok Utara. Di sekitar tempat itu terdapat tujuh sumur dan sebuah bangunan kecil yang terdapat banyak sekali senjata kuno seperti keris, tombak dan golok peninggalan tentara Banter saat melawan VOC. Dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah itu bukanlah petani melainkan tentara pada jamannya. Informasi dari Kuncen turun temurun, bahwa tempat itu sering diadakan pertemuan antara tentara kerajaan Banten dan Cirebon. Di tempat itu biasanya diadakan latihar bela diri dan pendidikan agama yang sering disebut pade-pokan. Kemungkinan nama Depok juga bersumber dari Pa-depokan Beji.
  • Di Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno yang merupakan masjid pertama di Bogor. Lokasi masjid ini dengan Bojong Gede hanya terhalang Sungai Ciliwung. Masjid ini dibangun Raden Safe’i cucu Pangeran Sangiang bergelar Prabu Sura-wisesa, yang pernah menjadi raja mandala di Muara Beres. Di rumah-rumah penduduk sekitar masjid ini masih terdapat senjata-senjata kuno dan beberapa buah kujang peninggalan zaman Padjajaran. Jadi masjid dibangun tentara padjajaran yang masuk Islam kurang lebih tahun 1550.
  • Di Bojong Gede terdapat makam Ratu Anti atau Ratu Mae-munah, seorang prajurit Banten yang berjuang melawan padja-jaran di kedungjiwa. Setelah perang selesai suaminya (raden pakpak) menyebarkan agama Islam di Priangan, sedangkan ratu anti sendiri menetap di bojonggede sambil menyebarkan agama Islam sampai meninggal.
Depok Zaman Kolonial“…Maka hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chastelein tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennj a tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennj a,…”Penggalan kalimat dengan ejaan van Ophuijsen itu adalah hasil terjemahan Bahasa Belanda kuno dari surat wasiat tertanggal 14 Maret 1714 yang ditulis tangan Cornelis Chastelein, seorang Belanda, tuan tanah eks pegawai (pejabat) Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).
Tiga bulan kemudian Chastelein meninggal dunia, persisnya 28 Juni 1714. Cornelis Chastelein itulah yang disebut cikal bakal berdirinya Kota Depok sekarang. Di bawah wewenang Kerajaan Belanda ketika itu (1696), ia diizinkan membeli tanah yang luasnya mencakup Depok sekarang, ditambah sedikit wilayah Jakarta Selatan plus Ratujaya, Bojong Gede, Kabupaten Bogor sekarang.Meneer Belanda itu menguasai tanah kira-kira luasnya 1.244 ha, setara dengan wilayah enam kecamatan zaman sekarang. Yang menarik dari surat wasiatnya, ia melukiskan Depok waktu itu yang dihiasi sungai, hutan, bambu rimbun, dan sengaja ditanam, tidak boleh di-ganggu.
Sungai Krukut yang disebut-sebut dalam surat wasiat itu boleh jadi berhubungan dengan wilayah Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok sekarang, persisnya di selatan Cinere. Jika ada penggilingan tebu, niscaya ada tanaman tebu. Pastilah tanaman tebu itu terhampar luas dengan pengairan cukup. Bisa dibayangkan betapa elok Depok waktu itu.Depok dan Bogor menjadi wilayah kekuasaan VOC sejak 17 April 1684, yaitu sejak ditandatanganinya perjanjian antara sultan haji dari Banten dengan VOC. Pasal tiga dari perjanjian tersebut adalah Cisadane sampai ke hulu menjadi batas wilayah kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.
Saat pemerintahan Daendels, banyak tanah di Pulau Jawa dijual kepada swasta, sehingga muncullah tuan tanah-tuan tanah baru. Di daerah Depok terdapat tuan tanah Pondok Cina, Tuan Tanah Mampang, Tuan Tanah Cinere, Tuan Tanah Citayam dan Tuan Tanah Bojong Gede.Pada masa kejayaan VOC sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 hampir semua orang Belanda di Batavia dan sekitarnya yang kaya raya memiliki sejumlah besar pekerja. Tumbuh kembangnya jumlah pekerja antara lain disebabkan kemenangan-kemenang an yang diraih VOC atau Belanda dalam menguasai suatu daerah, yang kemudian diangkut ke Pulau Jawa.
Pada era tersebut, hidup seorang tuan tanah dermawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan agama Kristen di Batavia dan sekitarnya. Beliau adalah Cornelis Chastelein yang menjadi anggota Read Ordinair atau pejabat pengadilan VOC. Ayahnya Antonie Chastelein, adalah seorang Perancis yang menyeberang ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya Maria Cruidenar, putri Wali Kota Dordtrecht. Sinyo Perancis-Belanda ini menikah dengan noni holland Catharina Van Vaalberg.
Pasangan ini memiliki seorang putra, Anthony Chastelein, dan kawin dengan Anna De Haan.Saat menjabat pegawai VOC, kariernya cepat melejit. Namun, saat terjadi perubahan kebijakan karena pergantian Gubernur Jenderal VOC dari J. Camphuys ke tangan Willem Van Outhorn, ia hengkang dari VOC. Sebagai agamawan fanatik, Cornelis tidak senang melihat praktek kecurangan VOC. Borok-borok moral serta korupsi di segala bidang lapisan pihak Kompeni Belanda selaku penguasa sangat berten-tangan dengan hati nurani penginjil ini.
Maka ia tetap bersikukuh keluar dari VOC, beberapa saat sebelum Gubernur Jenderal VOC Johannes Camphuys mengalihkan jabatannya kepada Willem Van Outhorn.Pada 18 Mei 1696, ia membeli tiga bidang tanah di hutan sebelah selatan Batavia yang hanya bisa dicapai melalui Sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah itu terletak di 6ilangan Mampang, Karanganyar, dan Depok.
Tahun itu juga, ia mulai menekuni bidang per-tanian di bilangan Seringsing (Serengseng) .Untuk menggarap lahan pertaniannya yang luas itu, ia mendatangkan pekerja dari Bali, Makassar, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Ternate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rate, dan Filipina. Semuanya berjumlah sekitar 120 orang. Atas permintaan ayahnya dulu, ia pun menyebarkan agama Kristen kepada para budaknya.
Perlahan muncul di sini sebuah padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante Organisatie van Christenen.Menjelang ajalnya, 13 Maret 1714, Cornelis Chastelein menulis wasiat berisi antara lain, mewariskan tanahnya kepada seluruh pe-kerjanya yang telah mengabdi kepadanya sekaligus menghapus status pekerja menjadi orang merdeka. Setiap keluarga bekas pekerjanya memperoleh 16 ringgit.
Hartanya berupa 300 kerbau pembajak sawah, dua perangkat gamelan berlapis emas, 60 tombak perak, juga dihi-bahkannya kepada bekas pekerjanya. Pada 28 juni 1714 Cornelis Chas-telein meninggal dunia, meninggalkan bekas budaknya yang telah melebur dalam 12 marga yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhoks.
Marga itu kini hanya tinggal 11 buah karena marga Zadoks telah punah.Anthony, putra Cornelis Chastelein, meninggal pada 1715, satu tahun setelah ayahnya meninggal. Istri Anthony kemudian menikah dengan Mr. Joan Francois De Witte Van Schooten, anggota dari Agtb. Raad van Justitie des casteels Batavia.Di Depok saat ini masih terdapat Lembaga Cornelis Chastelein (LCC) yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial.
- See more at: http://depoknews.com/sejarah-kota-depok/#sthash.3sQhuFRV.dpuf

Selasa, 15 April 2014

KAU BIDADARIKU

Kamu,
Hatiku dag dig dug
Saat aku melihatmu..
Jatuh di hadapanku..
Buatku buru buru..
Mendekatimu..

Langsung saja kutanya padamu,
Apakah kau baik baik saja,
Dengan berani kunyatakan rasa cinta...
Karena kau...

Kau bidadari ..
Jatuh dari surga...
Di hadapanku..

Kau bidadari..
Jatuh dari surga..
Tepat di hatiku..

So baby please be mine,please be mine oh mine...

Karena hanya aku..
Sang pangeran impianmu...
Oh bidadariku...

SEMANGAT!!!

Akankah aku terus seperti ini ?
Akankah aku terus terdiam ?
Melihat semua orang mencaci maki diriku
Membiarkan mereka terus menindasku

Memang tak seharusnya aku begini
Dan memang tak seharusnya aku lemah
Menghadapi mereka yang tak mungkin ku lawan
Adalah hal terbodoh yang mungkin aku lakukan

Biarlah orang berkata apa
Dan biarlah semua orang menganggapku rendah
Karena dimata Tuhan kita semua sama
Hanya situasi dan kondisi lah yang membedakan

Semangat ! Semangat ! Dan terus semangat
Kuatkan hati !
Teruslah melangkah maju
Jangan sampai terhenti ! Hanya karena perkara semata

UNTUKMU..

 Hatiku menangis saat takdir itu mengharuskan aku memilih.
saat takdir itu mengharuskan aku untuk melepaskan kamu.
saat takdir itu mengajarkan aku untuk berhenti mencintai kamu.

Sebenarnya berat
sebenarnya sakit
sebenarnya hancur
sebenarnya pasrah

Namun semua adalah takdir
aku harus melepaskanmu
aku harus melupakanmu

Hanya ku harap dirimu mengerti
bahwa ini bukan maksudku
hanya kuharap kau tahu aku masih mencintaimu

Senin, 14 April 2014

Dwi Larassati (Manyun)

Pertama bertemu dia hati ini sudah mengatakan bahwa dia berbeda dengan perempuan lain nya yang pernah dekat dengan saya. Dia memiliki paras yang sangat cantik, baik, dewasa, cerdas, dan memiliki postur badan yang tidak terlalu tinggi.

Dalam waktu lima bulan saya dekat dengan nya dan mengenal satu sama lain nya dari sifat yang baik dan bagus maupun yang jelek dan negatif. Bagi saya dia adalah seorang perempuan yang mandiri karena dia tinggal jauh dari orang tua nya. Aku banyak belajar dari sifat dewasa nya dan juga mandiri nya.

Rhada Anugrah Putra (Putem)


Rabu, 19 Maret 2014

Soekarno

Dalam sebuah bingkai yang terpajang rapi di bekas penjara Bung Karno, terpampang kalimat yang diungkapkan oleh sang Proklamator:
“Koe korbankan dirikoe di penjara ini demi Bangsa dan Negarakoe Indonesia..”

Mengenal lebih jauh tentang sosok proklamator ini memang selalu menarik. Keberanian dan ketegaran serta keteguhannya agar negara ini merdeka dan mandiri dari bangsa penjajah tetap tak bergeming di dalam sanubarinya, keinginannya untuk merdeka adalah suatu yang mutlak.

Belum lagi masalah rakyatnya yang berasal dari beranekaragam kebudayaan, agama, suku dan ideologi, membuat ia selalu berfikir bagaimana caranya untuk dapat memepersatukan mereka semua?

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang tahu disaat sang proklamator sedang sendirian di dalam bui dengan ruangan sempit dan lembab itu.

Karena disaat itu dipastikan belum ada media seperti saat ini, apalagi saat itu Indonesia juga masih dijajah. Maka, semua jalan hidup itu beliau jalani demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Untuk itu, mari kita sedikit agar lebih mengetahui, bagaimana keadaan dan kondisi penjara the founding father sang proklamator pendiri Indonesia ini.

Penjara Soekarno Jalan Banceuy Bandung

Dedikasi dan pengorbanan Presiden Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tak diragukan lagi. Dalam sebuah bingkai yang terpajang rapi di bekas penjara Bung Karno yang berada di pusat kota Jalan Banceuy, Bandung, terpampang kalimat yang diungkapkan Bung Karno “Koe korbankan dirikoe di penjara ini demi Bangsa dan Negarakoe Indonesia.”

Ada juga bendera merah putih berukuran besar menutupi salah satu sudut ruang. Sudut lain atau berhadapan dengan pintu dua gambar Soekarno melekat pada dinding. Di atas dua foto itu, ada ukiran Garuda dan teks Pancasila.

Bendera merah putih tampak di sel tahanan  presiden Sukarno di Penjara Banceuy

Bekas penjara Bung Karno berwarna hijau ini masih dibuat seperti dulu ketika Bung Karno ditahan Pemerintah Belanda.

Hanya tembok yang sebelumnya sudah mulai mengelupas kini dipoles agar lebih tampak indah. Bangunan kecil berukuran 2×5 meter ini tampak bersih.

Pintu kokoh berwarna hitam yang diberi ruang lihat, juga masih kekar. Bahan yang terbuat dari baja lengkap dengan kunci-kuncinya.

Di luar ruangan, ada sebuah tugu batu. Tugu batu tersebut adalah bekas kamar mandi Bung Karno.

Selain itu ada pula sebuah pondasi yang rencananya akan dibuat patung Soekarno diatasnya. Tiga tugu tersebut berada dalam satu kotak yang dipagari oleh warga sekitar.

Ahmad (47) Ketua RT 03 RW 03 Kelurahan Braga setempat, adalah juru kunci penjara tersebut, ia mulai diberi kepercayaan menjaga ini pada tahun 1986.

Ada juga bunga sedap malam diruang itu. Fungsinya sekedar untuk mengharumi ruangan agar tak bau lembab. Namun ia menegaskan ini hanya sekedar penghormatan kepada sang Proklamator dan pemeliharaan bangunan bersejarah serta demi kenyamanan pengunjung. “Jika bukan kita yang memelihara jadi siapa lagi? Dan jangan ada musyrik dengan meminta-minta sesuatu disini,” tegasnya.

Sedikit melihat sejarah ke belakang, bahwa bekas penjara Banceuy ini hanyalah sisa dari perjuangan rakyat Indonesia. Saat itu penjara Banceuy sempat terkenal dan menjadi salah satu saksi sejarah, di mana sang proklamator pernah mendekam pada tahun 1929 sampai 1930, sebagai tahanan politik dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Saat itu Bung Karno yang menjabat sebagai ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) dianggap membahayakan pemerintah Belanda. Maka beliau bersama tiga orang rekannya dikenakan jerat hukum yang terkenal dengan nama pasal-pasal karet atau haatzai artikelen.

Bung Karno saat itu dirasa membahayakan hingga akhirnya dipindahkan ke Lapas Sukamiskin. Disana Bung Karno ditahan di Ruang TA 01 di lantai 2.

Tak Ada Bantuan Dari Pemerintah Pusat dan Daerah

Hingga kini, tak ada pihak yang peduli hingga akhirnya dia menggalang dana dari warga sekitar. Pemerintah dia anggap hanya pengumbar janji. Beberapa kali menyodorkan bantuan untuk membenahi bangunan bersejarah tersebut, tidak pernah ditanggapi.

Miris melihat sejarah Indonesia terbengkalai, perbaikan dilakukan Februari 2012 lalu. Dana Rp. 20 juta justru didapat dari hasil swadaya dan donator. Pembenahan dilakukan agar orang tahu, bahwa di tempat ini sang Proklamator Indonesia berjuang.

Sukarno Muda

“Kalau mengandalkan pemerintah kapan mau dapatnya, tidak ada sama sekali sekecil apapun bantuan dilakukan,” ungkapnya.

Padahal menurutnya jika melihat sejarah, Bung Karno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sejak di sini.

“Sudah banyak yang tidak peduli, padahal jika ada anggarannya saya ingin jadikan ini sebagai tempat wisata sejarah. Jadi orang tak sungkan masuk ke sini”, jelas Ahmad.

“Kalau sekarang kondisinya kaya gini, gimana orang mau tahu kalo di sini ada bekas penjara Bung Karno?,” tambahnya.

Karena jika ke makam Bung Karno di Blitar terlalu jauh, maka tak jarang memang ada tokoh-tokoh mendatangi bekas penjara Bung Karno ini. Sebut saja Rieke Diah Pitaloka, Megawati Soekarnoputri, Haji Isha, dan Seto Mulyadi.

“Beliau sudah beberapa kali datang kesini. Menengok dan mendoakan,” ujarnya. Namun tak sedikit juga orang yang hendak berjuang dalam pemilu, mendatangi tempat ini. “Tahun 2008 kemarin banyak sekali yang datang, pasti nanti jelang pemilihan pasti banyak juga,” jelasnya.

Melalui perjalanan panjangnya, kini Ahmad yang merasa sudah mengabdikan diri kepada tempat tersebut berjuang untuk mempertahankan sisa sejarah yang ada. Menurutnya banyak kebijakan pemerintah ini yang tidak berpihak kepada sejarah.

Demi uang, sejarah dikorbankan. Hingga akhirnya sebuah penjara yang memiliki nilai historis sangat tinggi pun kalah dan digantikan dengan sebuah pertokoan yang kini malah tak berfungsi!

                                                                  Kejadian Mistis

Tempat tak berpenghuni memang selalu diidentikan dengan cerita mistis. Seperti halnya salah satu tempat bersejarah yang ada di Kota Bandung, penjara Bung Karno.

Dilihat sepintas tempat ini mirip pos hansip. Namun di balik itu terdapat sejarah kemerdekaan Indonesia.

Ruangan sekitar 2×5 meter itu adalah tempat perjuangan Bung Karno melawan penjajahan. Bapak Proklamasi ini ditahan di sini karena dianggap membahayakan pemerintahan Belanda saat itu. Presiden pertama Republik Indonesia ditahan pada tahun 1929 hingga 1930.

Sudah seperempat abad tempat ini tak berfungsi. Apalagi sekitaran penjara hanya dipakai tempat penyimpanan barang dan gerobak PKL.

Tempat ini adalah sejarah perjuangan bangsa Indonesia, meski hanya satu yang tersisa. Di tempat ini pejuang bangsa disiksa. Bahkan tak sedikit ada yang mencucurkan darah hingga tewas. Jejak inilah yang membekas hingga kini. Hal ganjil dikaitkan dengan masa penjajahan.

Salah satu penjaga bekas penjara Bung Karno, Ahmad (47) mengakui bahwa keganjilan-keganjilan sering dirasakannya. Saking seringnya, Ahmad yang merupakan ketua RT setempat tak lagi menghiraukannya. Meski sesekali perasaan takut menghantui.

Suatu ketika pria kelahiran Kuningan itu, pernah mengalami hal mencengangkan di sekitar penjara Bung Karno pada Februari 2012 lalu. Saat itu Ahmad yang sedang merenovasi, dikagetkan dengan munculnya sosok pria besar yang berhasil ditangkap kamera ponsel.

“Jadi saat itu ada orang yang mau jual motor, dia hendak foto motornya tepat di belakang monumen penjara. Tak lama orang yang motret itu sakit dan kagetnya lagi saat membuka hasil jepretan di ponselnya bukan motor tapi seperti sosok pria berbadan besar yang melihat kamera dengan menyilangkan tangan,” kata Ahmad.

Hasi foto ukuran A 4 itu kini dia simpan sebagai dokumen pribadi. Sesekali dia perlihatkan kepada siapa saja yang penasaran.

Ditanya siapakah sosok itu? “Wah ga tahu yah. Inikan cuma tampak bayangan aja, perawakan besar sambil menyilangkan tangan,” jelasnya dan memperlihatkan bulu kuduknya yang merinding.

Menurutnya itu hanya satu dari banyak cerita mistis lainnya. Dia menyadari tempat itu dianggap ‘berpenghuni’. “Saya sering jaga dipos, kadang suka ketiduran, eh ada aja yang bangunin,” katanya.

“Pak.. Pak … Bangun Pak. Sudah malam pindah tidurnya,” begitu Ahmad menirukan suara sesosok yang membangunkan dirinya ketika itu.

Lainnya, Ahmad juga pernah dikagetkan dengan suara yang meminta dirinya untuk menguncikan pagar pembatas bekas penjara Bung Karno.

“Jadi dulu malam-malam hujan deras, saya mau benerin pipa, eh di belakang saya ada yang manggil dan minta untuk kunci pagar pembatas, pas dilihat suaranya ada tapi orangnya ga ada,” terangnya.

Dia meminta bagi siapa saja yang ingin berwisata atau berfoto, hendaknya meminta izin dan mengucapkan Assalamualaikum. “Kita ini kan niatnya tidak mengganggu, izin saja,” jelasnya.

Penjara Sukamiskin

Namun demikian, penjara Sukamiskin di Bandung, Jawa Barat, mungkin dapat dikecualikan. Barangkali, inilah satu-satunya lembaga pemasyarakatan yang terbilang layak bagi para penghuninya pada masa lalu. Setiap tahanan berhak atas ruangan sempit 2×1 meter tanpa harus berbagi dengan tahanan lain.

Lembaga permasyarakatan ini memang bukan tempat sembarangan. Di sinilah Bung Karno juga pernah dibekam oleh penjajah Belanda setelah dipindah dari penjara Banceuy. Hanya saja, kebanyakan tahanan tidak mengetahui perihal tersebut.

                                                Penjara Sukamiskin Bandung

Di kamar TA 01 Sukarno ditahan atas tuduhan yang sengaja dicari-cari dan kelak dibenarkan oleh Landraad Belanda di Bandung pada 22 Desember 1930. Di kamar itu pulalah mantan presiden pertama Indonesia itu menulis pledoi yang sangat terkenal: “Indonesia Menggugat”.

Bung Karno secara tajam membahas kejahatan imperialisme dan kolonialisme di dunia, khusunya di Hindia-Belanda. Rakyat Indonesia diperlakukan secara kejam dengan wajib tanam, dan jikapun diberikan upah, sangatlah kecil, yakni “segobang” (2,5 sen) sehari. Padahal, pendapatan Hindia-Belanda dari perusahaan swasta sangat besar.

Saat ini kamar tersebut sengaja dibiarkan kosong untuk mengenang perjuangan Bung Karno. Meski memiliki prosedur rumit dan ketat, sifat kamar ini terbuka bagi masyarakat yang ingin melakukan wisata sejarah. Dan masyarakat dapat menyaksikan sejumlah buku-buku koleksi Sukarno maupun buku yang bercerita tentang dirinya. Selain itu, ruang ini juga berisi sebuah kursi dari rotan, ranjang lipat, dan toilet duduk di bawahnya, serta tempat makan alumunium yang pernah dipakai bung karno sebagai tahanan.

Peninggalan lain ada pada ruang pembinaan, dimana terdapat puluhan mesin cetak dari bebagai generasi dengan merek-merek Eropa, Sepintas tampak seperti museum percetakan. Bung Karno dijatuhi hukuman 4 tahun penjara, dan bekerja secara paksa dipercetakan penjara milik pemerintah Hindia-Belanda. (lenteratimur/merdeka)

Selasa, 18 Maret 2014

Soekarno

Sowan Pak Amin Aryoso

Amin Aryoso - Roso Daras 2014

Sudah lama tidak sowan sesepuh GMNI, Sukarnois, dan penggiat kembali ke UUD ’45 yang asli, Amin Aryoso. Dalam kesempatan silaturahmi di sore yang gerimis baru-baru ini, saya jumpai dia duduk di kursi roda. Dalam keadaan yang belum pulih dari sakit, Amin Aryoso tetap saja Amin Aryoso, yang selalu antusias jika disinggung soal Bung Karno, jika menyoal amandemen UUD ’45 yang kebablasan.

Meski terkendala komunikasi, sebisa-bisa saya berusaha untuk berdialog meski tidak lancar. Awalnya, saya menghadiahi dia dua buku Bung Karno yang saya tulis tahun 2013. Tampak di wajahnya, ia menyambut baik dan sangat berkenan. Sayang, lagi-lagi, dia tidak bisa mengutarakan perasaan hatinya.

Topik lain, adalah copy dokumen tentang notulen hasil rapat PPKI 8 Agustus 1945 yang membahas soal dasar negara (konstitusi). Dokumen itu didapat putra beliau, Azis Aryoso. Meski dalam bentuk foto-kopian yang tidak begitu jelas terbaca, tetapi Azis menjamin, petugas pengetik notulen itu masih hidup, dan bisa dimintakan konfirmasi, jika hendak menulis ulang notulensi tersebut.

Saya bicara dan bicara. Dan saya yakin, dia paham apa  yang saya bicarakan. Sejurus kemudian, dia menggerakkan tangannya seperti orang sedang menulis. Saya segera menangkap maksudnya. Di atas kertas, saya tuliskan apa-apa yang hendak saya lakukan dengan dokumen itu. Antara lain, menuliskan ulang suasana sidang PPKI ketika itu yang begitu dinamis. Melibatkan tokoh-tokoh pendiri bangsa, dalam perdebatan perumusan dasar negara (UUD 1945) yang sangat berbobot. Ada bahasan pasal demi pasal, ada adu argumen antar peserta rapat, dan sebagainya.

Bagi saya, Amin Aryoso adalah salah satu sesepuh, saksi sejarah, korban Orde Baru, sekaligus panutan dalam memaknai ajaran Bung Karno. Konsistensinya pada apa yang diyakininya, sangat mengagumkan. Bahkan, ketika mulut (akibat stroke) tak lagi mampu berkata-kata, dia masih begitu bersemangat. Tak pelak, Amin Aryoso adalah inspirasi untuk terus menggali dan mensyiarkan ajaran Bung Karno.

Soekarno

Agustus yang Hangat di Uni Soviet

Ini adalah tulisan pertama tentang kunjungan Presiden Sukarno ke Uni Soviet pada tanggal 28 Agustus 1956. Narasi yang tersedia memang sangat terbatas, jauh lebih sedikit dibanding jumlah foto yang disajikan. Karenanya, saat menikmati buku lawas berjudul “Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni” terbitan Penerbit Seni Lukis Negeri Moscow 1956 itu, ada rasa geram, haus akan narasi yang panjang. Sayang memang, keinginan itu tidak terkabulkan.

Merekonstruksi peristiwa itu, mungkin saja bisa dilakukan, tentu saja jika masih ada satu-dua saksi mata yang ikut serta dalam kunjungan tersebut. Melalui postingan ini, siapa tahu, kepingan puzzle yang entah di mana, bisa muncul dan melengkapinya menjadi sebuah cerita sejarah yang sangat menarik untuk generasi penerus.

Selama ini, sering kita mendengar cerita fantastis tentang betapa Bung Karno senantiasa mendapat sambutan luar biasa di negara mana pun yang ia kunjungi. Kebesaran nama Sukarno, ketika itu, bahkan lebih besar dari Indonesia itu sendiri.

Tak terkecuali, kunjungan Bung Karno dan rombongan ke Uni Soviet antara 28 Agustus – 12 September 1956. Bukan waktu yang sebentar. Akan tetapi, juga bukan waktu yang lama jika ingin mengunjungi negara yang maha besar (ketika itu).

Bung Karno Tiba di MoskowFoto di samping ini adalah foto Bung Karno saat keluar dari pintu pesawat, melambaikan tangan kepada para petinggi negeri dan rakyat Soviet yang menyambutnya. Pidato kedatangan Bung Karno dalam buku itu diringkas sebagai berikut, “Indonesia terpisahd ari Uni Soviet dengan lautan yang luas, dengan dataran dan pegunungan, akan tetapi kami merasa di sini seperti di rumah, seperti di antara keluarga kami sendiri.” Dalam rapat-rapat akbar selanjutnya, di kota mana pun Bung Karno singgah, kalimat di atas tidak pernah ketinggalan.

Sambutan itu membuktikan adanya rasa simpati yang hangat di hati rakyat Soviet terhadap rakyat suatu negeri yang jauh yang tidak sedikit sumbangannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang berjuta-juta itu. Kaum pekerja Uni Soviet menyambut Presiden Sukarno, seorang tokoh politik  dan tokoh negara terkemuka sebagai wakil rakyat Indonesia yang 80 juta jumlahnya, yang perwira dan cinta damai.

Kota Moskow 1956

Foto di atas adalah gambaran kota Moskow, Ibu Kota Uni Soviet, tahun 1956.

Bung Karno terima Penghormatan

Tampak di gambar sebelah kiri, Bung Karno membalas penghormatan dari komandan militer setempat, didampingi Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov. Selain disambut hampir semua petinggi negara, Bung Karno dan rombongan juga disambut upacara militer dengan parade pasukan penuh di bandara. Di samping itu, masih banyak kaum buruh dan rakyat Soviet yang ikut menyambut di bandara (dan nanti, di sepanjang jalan menuju Kremlin).

Bung Karno dan Worosjilov

Bung Karno disambut dengan sangat ramah oleh Ketua Presidium Soviet Tertinggi, K.E. Worosjilov dan Ketua Dewan Menteri Uni Soviet, N.A. Bulganin (tengah). Jika ada yang bilang, “foto bisa bicara”, maka yang terkesan dari foto di atas adalah, sambutan dan senyum yang sama-sama tulus dari kedua pemimpin negeri.

Yang satu pemimpin tertinggi salah satu negeri adi daya (ketika itu), yang satu adalah presiden dari sebuah negara yang baru 11 tahun merdeka, tetapi reputasi presidennya telah kesohor ke seantero penjuru bumi. Foto itu juga berbicara tentang kesetaraan antara dua kepala negara. Perhatikan bagaimana Bung Karno menjabat Worosjilov. Itulah jabatan tangan Bung Karno yang terkenal, “menggenggam habis” tangan yang disalaminya, seberapa besar pun tangan orang itu.

Kopiah yang menjadi ciri khas Bung Karno, serta kacamata hitam yang tetap melekat, disadari atau tidak, memancarkan aura percaya diri yang sangat tinggi. Terhadap presiden yang demikianlah, negara sebesar apa pun akan segan. Dengan kepala negara yang disegani, Indonesia pun menjadi negara yang disegani di dunia (ketika itu).

IBU

Walau Tak setegar Karang. Sebuah Cerita Sosok Seorang Ibu yang Hebat

Walau Tak setegar Karang. Sebuah Cerita Sosok Seorang Ibu yang Hebat

Perempuan selalu saja diidentikan dengan air mata. Kelemahan fisik para perempuan seringkali membuat ia terjerembab dalam keterpurukan. Yang akhirnya berimbas pada kelemahan jiwa dan pemikirannya. Maka akan kita saksikan dalam panggung kehidupan bahwa berbagai cerita tragis begitu lekad dengan kehidupan kaum perempuan. Apakah hal itu benar sobat?

Ternyata tidak!!!!! Masih ada permpuan- perempuan yang tetap tegar meskipun tragedi alur yang nyata dalam drama kehidupan yang ia lalui. Mereka mampu memaafkan, mampu mengambil inspirasi dari apa yang dia alami, lalu memetakan hal hal tersebut menjadi sebuah inspirasi untuk menggapi kebahagiaan. Dan akhirnya, mereka memang mampu mendapatkan kebahagiaan itu.

Ya..... karena sesunggunhnya kebahagiaan itu terletak di dalam hati. Kebahagiaan bisa kita munculkan, tergantung sejauh mana kita mampu megubah susdut pandang kita terhadap penderitaan yang kita alami. 

Kebahagiaan memang harus kita ciptakan. Jika kita membiarakan hidup kita senantiasa diwarnai tragedi, maka selamanya air mata akan membasahi pipi. Dan kita akan kehilangan sebuah kesempatan besar untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut dan mencecap indahnya warna - warni dunia ini.

Aku akan menceritakan sebuah kisah seorang ibu yang sangat luar biasa hebat. Dia tidak pernah mengeluh di depan anak- anaknya. Dia selalu tersenyum, dia begitu hebat dan kuat dalam mengahadapi cobaan. Tak pernah ada keluh kesah dari dalam dirinya. Dia mampu mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Muali dari mengurus rumah, mengurus sawah dan bahkan  sampai mengurus binatang ternak yang dimilikinya. Aku sangat salut dan bangga mempunayi seorang ibu seperti beliau. Meski dirinya tak setegar karang di tegah laut yang tak akan hancur diterpa kerasnya ombak. Tetapi dia sangat hebat bagiku.

Dia memang selalu berusaha menciptakan kebahagiaan untuk dirinya sendiri dan untuk anak- anaknya dan suaminya. Aku selalu bangga mempunyai ibu sepertinya, walaupu dia hanya seorang ibu rumah tangga dan bekerja sebagai petani, tidak seperti ibu- ibu temanku yang mempunyai pekerjaan yang lebih mulia. Tapi ibuku sangat hebat dan kuat. Dia bahkan mampu mengatasi berbagai persoalan tanpa harus ada pertimbangan dari suami tercintanya. Dia selalu optimis dengan kemampuan dirinya. Ibuku memang hebat dari sekian ibu- ibu yang kuat lainnya. Bagiku ibuku yang ter......segalanya dari banyak ibu yang aku kenal.

Pernah suatu ketika aku masih kecil, aku membuat ibuku jengkel. Karena waktu aku masih kecil, aku sangat nakal. Hampir setiap tengah malam aku bangun dari tidur dan rewel minta digendong sama ibu. Aku minta digendong oleh ibu dan aku gak mau yang lain. AKu menangis sampai keras. Hal itu aku lakukan sampai aku menjelang masuk sekolah dasar. Meski aku setiap malam rewel, tapi dengan sabarnya ibuku menggendong aku dan menenangkan aku agar tidak menangis lagi. Meski aku tau ibu sempat jengkel padaku, tapi ibu tetap menenangkanku.

Jangan pernah menyepelekan apa yang menjadi keinginan ibu kita. Karena apa yang menjadi kehendajnya pasti juga akan menjadi kehendak Allah dan begitu pula sebaliknya apa yang tidak dia kehendaki juga tidak menjadi kehendak Allah untuk anak- anaknya. Aku sudah mebuktikan hal tersebut.

Islam Itu Indah

Perkembangan Islam di Jalur Sutra

 Hubungan dagang Jalur Sutra telah melibatkan banyak pedagang Arab. Mereka pun membawa dakwah Islam sembari berdagang. Bahkan, waktu periode Jalur Sutra pun sangat pas dengan kelahiran Islam di Timur Tengah, yang merupakan lalu lintas penghubung Asia dan Eropa.

Sebagaimana menurut Hugh Kennedy dalam "The Great Arab Conquests", terdapat dua periode bersejarah yang utama manakala Jalur Sutra menjadi fokus utama bagi perdagangan dunia. Salah satunya, yakni periode tepat sebelum dan selama penaklukan Muslim.

Maka, Islam pun ikut serta dikenalkan melalui jalur perdagangan Sutra. Sebagaimana menurut Frances Wood, terdapat sebuah masjid tertua di Cina, yang posisinya tepat berada di lingkaran Jalur Sutra. Setiap Jumat tiba, sekitar dua ribu Muslim memadati masjid yang berlokasi di jantung Kota Guangzhow tersebut.

Jalur Sutra disebut-sebut sebagai  jalur yang dilalui para sahabat Rasulullah dalam mendakwahkan Islam. Geliat dakwah itu terjadi bermula sejak era kekhalifahan Usman bin Affan. Dia mengirim utusan pertama ke Cina pada 651 Masehi. Sang utusan pun menghadap Kaisar dari Dinasti Tang, Yong Hui kemudian menyebarkan Islam di negeri Cina. Sejak itulah, Islam mulai dikenal di daratan Cina.

Tan Ta Sen dalam bukunya, Cheng Ho; Penyebar Islam dari Cina ke Nusantara, menyebutkan banyaknya saudagar Arab yang singgah, bahkan bermukin di Cina. Tak sedikit yang kemudian menikah dengan perempuan setempat dan membentuk komunitas Muslim. Komunitas-komunitas Muslim tersebut banyak terbentuk di pusat perdagangan.

Disebutkan oleh Tan, pada masa puncak perdagangan di era Dinasti Tang dan Song pada abad ke-7 hingga abad ke-13, cukup banyak bermunculan komunitas dan permukiman Arab di beberapa daerah perdagangan Cina. Di antaranya, yakni di Chang-An (Xi-An), Yangzhou, Ningpo, dan kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Quanzhou di Cina dan Champa di semenanjung Indocina.

Tak berhenti di China, para saudagar Muslim juga mengenalkan Islam ke kawasan Asia lain, hingga ujung dunia Timur, yakni Asia Tenggara. Malaka-lah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian tersebar ke seluruh kawasan regional.

Prof A Hasymi dalam bukunya, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, menyatakan, Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama nusantara yang berdiri pada abad ke-3 Hijriah. Buktinya, pada 173 Hijriah atau 800 Masehi sebuah kapal layar berlabuh di Bandar Perlak membawa para saudagar di bawah pimpinan nakhoda Khalifah dari Teluk Kambay Gujarat. Pada 1 Muharram 225 Hijriah (840 Masehi), Kerajaan Islam Perlak resmi berdiri dengan Sayid Abdul Aziz sebagai sultan pertama.

Dari Malaka itulah, Islam kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui perdagangan. Namun, kawasan tersebut tak termasuk Thailand. Pasalnya, kawasan Pattani, Thailand, telah mengenal Islam bersamaan dengan masuknya Islam ke Malaka.

Datang ke nusantara
Perdagangan rempah-rempah juga melintasi Jalur Sutra. Inilah mengapa Islam juga sampai ke nusantara karena nusantara-lah gudang penghasil rempah-rempah yang sangat disukai Eropa. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia IV: Nusantara di abad ke-18 dan ke-19 menuturkan, pelabuhan-pelabuhan rempah-rempah nusantara, seperti di Sumatra, Ternate, Tidore, dan Banda menjadi terkenal pertama-tama karena para pedagang Cina. Kemudian, para pedagang dari Jawa dan Melayu juga menjadi penting dalam Jalur Sutra. Semuanya bermuara di Cina dan diteruskan melalui Jalur Sutra.

Karena berada pada jalur perdagangan laut dari Timur Tengah ke Cina, kata Marwati, tidak mengherankan jika agama Islam telah dianut di nusantara. Hanya saja, sumber agama Islam di nusantara tidak saja langsung dari Timur Tengah, tetapi bersamaan dengan terbentuknya emporium-emporium (pasar-pasar) sepanjang jalur perdagangan itu sejak abad ke-10. Kota-kota pelabuhan di India, seperti Kalikut, menjadi sumber agama Islam di nusantara.

Dengan demikian, muncullah di nusantara sejumlah kota pelabuhan yang penduduknya beragama Islam. Selain kedua sumber, yakni Timur Tengah dan India, terdapat pula sumber ketiga, yakni Cina (khususnya dari Mazhab Syafi'i), yang mendapat pengaruh Islam dari Timur Tengah dan India. "Agama Islam dari Cina itu makin menyebar setelah Cheng Ho mendapat izin dari sultan-sultan Malaka sejak Parameshwara untuk membangun pusat perdagangannya di kota pelabuhan itu dan menjadikannya sebuah emporium," tulis keduanya.

Hal tersebut sesuai dengan beragamnya teori masuknya Islam ke nusantara. Namun, jika melihat Jalur Sutra, teori Cina juga tak dapat luput begitu saja. Teori tersebut menyatakan, perantau Cina-lah yang membawa Islam ke Indonesia. Para perantau ini telah mendapat pengaruh dari Arab. Sebagaimana disebutkan bahwa banyak permukiman Muslim yang bermunculan di Cina.

Menurut Tan Ta Sen, sejarah Islam di Indonesia sangat berkaitan erat, bahkan berasal dari Champa. Berlokasi di Semenanjung Indocina, Champa merupakan salah satu wilayah taklukkan Cina sejak era Dinasti Tang. Di tengah pengaruh konfusian dan Hindu,  Champa disinyalir mendapat pengaruh Islam dari pedagang Arab. Dugaan tersebut datang setelah ditemukannya dua batu nisan Muslim di wilayah Phan-rang, Champa selatan.

M Ikhsan Tanggo dkk dalam “Menghidupkan kembali Jalur Sutra Baru" menuturkan, agama Islam telah masuk Cina sejak abad ketujuh melalui Jalur Sutra. Demikian pula, masuknya Cina ke Indonesia telah terjadi sejak abad ke-7 Masehi dengan banyaknya bukti arkeologis. Dengan demikian, penyebaran Islam di Indonesia tak hanya dilakukan oleh orang-orang Arab dan Persia melalui Laut India, tapi juga dilakukan Muslimin dari daratan Cina.